Langsung ke konten utama

SINERGI DAKWAH KONTEMPORER



Sebagai Laporan Kuliah Lapangan Mata Kuliah Ilmu Dakwah

Kota Surabaya yang merupakan Ibu kota Provinsi Jawa Timur ini merupakan pusat pemerintahan daerah, politik, perdagangan, industry, pendidikan, dan kebudayaan sehingga tidak mengherankan apabila Surabaya memiliki daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang berasal dari luar Kota Surabaya untuk bermigrasi. Mereka datang dengan berbagai motif dan yang paling dominan adalah motif ekonomi dengan tujuan mencari kehidupan yang lebih baik. Besarnya penduduk yang bermigras dan terbatasnya lapangan pekerjaan di Kota Surabaya ini menjadi salah satu faktor pendorong munculnya kegiatan prostitusi. Surabaya memiliki sebuah kawasan lokalisasi yang sangat terkenal hingga dikatan sebagai yang terbesar di Asia Tenggara.
Kawasan Dolly atau yang biasa terkenal dengan sebutan Gang Dolly adalah nama kawasan lokalisasi tersebut. Lokalisasi ini terletak di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan. Dikatakan sebagai tempat prostitusi terbesar di Asia Tenggara dibandingkan dengan Phat Pong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura. Di Dolly, terkumpul ribuan PSK yang berasal dari sejumlah daerah seperti Semarang, Kudus, Pati, Purwodadi, Nganjuk, Sidoarjo, Sumenep, Malang, Trenggalek, dan Kediri. Sedangkan mereka yang berasal dari Surabaya bekerja di Dolly sebagai model paruh waktu atau freelance.
            Memang banyak beragam kisah mengenai berdirinya Dolly, yang pertama menyebutkan bahwa Dolly merupakan nama dari salah seorang perintis berdirinya usaha prostitusi tersebut di Kota Surabaya. Dolly Van De Mart adalah seorang perempuan keturunan Belanda yang membuka sebuah wisma berisikan perempuan-perempuan cantik yang tugas utamanya untuk melayani tentara Belanda kala itu.
Karena pelayanan memuaskan yang diberikan oleh para perempuan cantik tersebut, membuat tentara Belanda akhirnya tertarik untuk datang berkunjung kembali. Tidak hanya itu, masyarakat pribumi yang ikut penasaran juga akhirnya menyinggahi tempat itu sehinga lama-kelamaan rumah bordil itu menjadi kawasan yang ramai dan terkenal hingga sampai seperti sekarang.
            Selain kisah Dolly Van De Mart seperti yang sudah dipaparkan di atas, ada kisah lain mengenai awal berdirinya kawasan prostitusi terkenal itu. Dalam kisah yang satu ini, menyebutkan bahwa pada awalnya Dolly hanyalah sebuah kompleks / kawasan pemakaman Cina yang kemudian di bongkar untuk dijadikan hunian rumah tempat tinggal. Lalu sekitar tahun 1976-an ada seorang mantan pelacur berdarah Jawa-Philipina yang bernama Dolly Khavit atau yang lebih dikenal dengan tante Dolly yang pindah ke daerah tersebut. Lantas kemudian Dolly Khavit mendirikan rumah bordil untuk pertama kalinya.
            Usaha rumah bordilnya ini membuat orang penasaran dan mengundang mereka untuk berkunjung sehingga akhirnya kawasan tersebut semakin hari semakin terkenal seperti sekarang. Konon sejak saat itulah bisnis prostitusi inipun mulai menjalar, banyak kemudian puluhan rumah bordil yang mendirikan bisnis yang sama bermunculan. Selain karena lokasi yang strategis, cara para PSK (Pekerja Seks Komersial) menjajakan diri dengan berada di aquarium memang menjadi magnet yang besar bagi para lelaki hidung belang.
            Semakin lama Gang Dolly semakin dikenal masyarakat. Kondisi tersebut kemudian berpengaruh pada kuantitas pengunjung dan jumlah PSK serta Dolly juga menjelma menjadi kekuatan dan sandaran hidup bagi penduduk di sana. Ada lebih dari 800 wisma esek-esek, kafe dangdut, dan panti pijat plus-plus. Setidaknya setiap malam sekitar 9.000 lebih penjaja cinta, pelacur di bawah umur, germo, dan ahli pijat siap menawarkan diri kepada pengunjung. Bahkan seorang PSK dapat melayani 10 hingga 13 pelanggan dalam semalam. Bukan hanya itu, Dolly kemudian juga menjadi tumpuan hidup bagi ribuan pedagang kaki lima, tukang parkir, dan calo prostitusi. Semua saling berkaitan menjalin simbiosis mutualisme.
  




Tahun 2014, lokalisasi Dolly resmi ditutup oleh Walikota Surabaya, Ir. Tri Rismaharini, M.T setelah sekian puluh tahun menjadi kawasan prostitusi yang dianggap merupakan sumber hal-hal negative dan untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa. Penutupan ini telah melalui proses negosiasi yang sangat panjang dan menuai demonstrasi dari para preman, mucikari, PSK, dan warga sekitar yang menggantungkan penghasilan dari kegiatan prostitusi tersebut. Mereka melakukan demonstrasi karena dalih bahwa selama ini dari lokalisasilah mereka mendapatkan penghasilan untuk biaya hidup. Jika lokalisasi ditutup, maka itu sama saja dengan menghilangkan mata pencaharian mereka.


            Namun Gang Dolly kini berbenah menampakkan wujud barunya setelah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berhasil menutupnya pada Rabu 18 Juni 2014.
Pada malam terakhir bisnis prostitusi di Gang Dolly, etalase kaca yang biasa memajang para Pekerja Seks Komersial (PSK) berpakaian minim, terlihat kosong dan gelap. Para muncikari tak lagi sibuk bertransaksi dengan para tamu sambil memencet kalkulator.
Sementara, warga menutup rumah dan toko, khawatir kericuhan bakal terjadi. Suasana mencekam kala itu.
Pada saat bersamaan di Gedung Islamic Center Surabaya, yang jaraknya sekitar 1 km dari Dolly, sejumlah pejabat penting berkumpul, di antaranya Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri, Gubernur Jatim Soekarwo, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Mereka secara resmi menutup operasional lokalisasi Gang Dolly.
            Lokalisasi Dolly yang tersebar di lima RW di wilayah Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, memang terbagi menjadi dua lokalisasi. Pertama, lokalisasi Gang Dolly --sebenarnya Jalan Kupang Gunung Timur I– serta deretan wisma yang terletak di sisi selatan Jalan Jarak.
Kedua, lokalisasi Jarak yang letaknya tepat di seberang jalan lokalisasi Dolly. Saat masih beroperasi, ada perbedaan mendasar antara lokalisasi Dolly dan Jarak, yakni kualitas dari para PSK yang ada. "Mbak-Mbak" di Dolly memang lebih muda dan cantik sehingga memiliki tarif yang lebih tinggi, berkisar Rp200 ribu hingga Rp500 ribu untuk sekali kencan. Sedangkan Jarak yang areanya justru lebih luas, kualitas "Mbak-Mbak" dan tarifnya di bawah Dolly. Para "Mbak" yang sebelumnya beroperasi di Dolly dan mulai berumur, harus rela bergeser operasi ke wilayah Jarak apabila tetap ingin bertahan di kawasan merah tersebut. Berapa tarif "Mbak-Mbak" yang ditawarkan Arief tadi? Dia menyebut Rp300 ribu untuk Mita dan Laras, sedangkan Widya Rp250 ribu untuk kencan sekitar satu jam. “Itu sudah termasuk bayar kamar di sekitar sini. Kalau sampeyan mau bawa ke hotel, kamar hotelnya sampeyan bayar sendiri,” kata Arief yang mengaku mendapat fee dari para "Mbak" tadi antara Rp35 ribu hingga Rp50 ribu.
Bisnis prostitusi tampaknya tak bisa hilang begitu saja di bekas lokalisasi Dolly yang secara resmi telah ditutup oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini pada 18 Juni 2014. Masih ada yang melakukannya dengan cara sembunyi-sembunyi, memanfaatkan berbagai hotel yang letaknya jauh dari Dolly atau kamar-kamar tertentu di beberapa rumah kost di wilayah tersebut.
Harga Rumah Naik Kawasan Dolly yang pernah disebut sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara dengan 1.449 PSK dan 313 mucikari itu memang telah berubah wajah. Jika dulu berbagai wisma, karaoke, atau salon berderet di Jalan Jarak, kini hanya tersisa bekas-bekasnya. Wisma atau salon berubah menjadi toko komersial seperti mini market, counter handphone dan pulsa, pangkas rambut, air isi ulang, bengkel motor dan aksesorinya atau warung kopi. Adapun Gang Dolly atau Jalan Kupang Gunung Timur I juga telah berubah wajah meski masih tersisa beberapa bangunan rumah dengan kaca etalase yang dulu dipergunakan para "Mbak-Mbak" menunggu para tamunya. Di ujung jalan Kupang Gunung Timur I, tepatnya rumah nomor 1A yang terdri dari tiga lantai, kini dijadikan usaha pangkas rambut “Abassy”. Dulu, tempat itu dikenal orang sebagai “Salon Ari”. Menurut Ahmad Fauzy (23) pemilik Abassy, dia membuka pangkas rambut sejak dua bulan lalu. “Saya sewa tempat ini Rp23 juta untuk dua tahun,” katanya kepada Tirto.id, pada Minggu (18/9/2016) . Fauzy baru memanfaatkan ruang etalase eks Salon Ari untuk bisnis pangkas rambutnya. Selain ruang etalase, masih ada satu kamar dan satu kamar mandi di lantai bawah. Sedangkan di lantai dua, terdapat empat kamar berukuran 2 x 2 meter persegi. Masih ada satu kamar lagi di lantai tiga. Kondisi keenam kamar tersebut gelap dan pengab penanda lama tak dipergunakan. Interior di dalamnya pun sama, bentuk ranjang dari betonan semen untuk meletakkan kasur, serta sepetak kecil lantai toilet dan keran untuk berbilas di ujung ranjang. Fauzy sendiri mengaku masih pusing untuk memanfaatkan keenam kamar tersebut. “Mungkin bakal saya sewakan untuk kamar kost. Tapi entah, apa ada yang mau menyewa,” katanya. Buntut penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak memang berimbas pada harga sewa dan harga jual rumah di kawasan tersebut. Untuk harga rumah misalnya, bisa naik hingga tiga kali lipat. Jika dulu masih kawasan lokalisasi, rumah warga di berbagai gang Putat Jaya di Jarak dengan luas tanah sekitar 100 meter persegi sekitar Rp100 juta, kini melenting menjadi Rp300 juta hingga Rp350 juta. “Kalau dulu siapa yang mau beli, wong di sebelah-sebelahnya jadi wisma lokalisasi?” kata Basir, warga Jalan Putat Jaya. Senin malam (19/9/2016). Hal yang paling menakjubkan dari lokalisasi Jarak, tak lain berimpitannya wisma prostitusi dan rumah warga nonprostitusi. Pembedanya hanyalah tulisan mencolok di pagar atau depan rumah, yakni “Rumah Tangga” untuk rumah warga yang normal.

            Nama Dolly Dipertahankan Suasana malam di Dolly juga sudah berubah total. Jika dulu sekitar pukul 22.00, kehidupan malam mulai berdenyut cepat, kini justru mulai terlihat sepi layaknya perkampungan lain di Kota Buaya. Semakin larut, kawasan tersebut juga turut terlelap. Kecuali di beberapa sudut tempat warung kopi yang buka 24 jam, tempat para lelaki berkumpul untuk sekedar ngobrol melewatkan malam. Kehidupan malam yang sepi itu memang menyisakan duka bagi banyak warga yang dulu “menggantungkan” hidup dari kehidupan malam di Dolly. Dari total 15 RW di Kelurahan Putat Jaya, sebanyak lima RW menjadi tempat lokalisasi dengan total jumlah penduduk sekitar 10 ribu orang. Saat masih menjadi lokalisasi, banyak warga yang membuka toko di rumah mereka untuk memenuhi kebutuhan para Mbak-Mbak dan tamu-tamunya. Mulai dari rokok, sabun, shampo, atau mie instan hingga beras. Begitu lokalisasi ditutup dan tak ada lagi denyut kehidupan malam, satu per satu toko milik warga pun ikut tutup. Kondisi inilah yang merupakan pekerjaan rumah besar bagi Walikota Risma dan jajarannya. “Memang hal terberat adalah mengubah mindset warga asli untuk mau mengubah cara mendapatkan penghasilan. Sebab dulu mereka memang berada di zona nyaman, dimanjakan dengan keberadaan dunia malam yang mendatangkan banyak uang,” kata Yunus, Camat Sawahan kepada tirto.id, pada Selasa (20/9/2016).Sementara ketika ditanya soal keberadaan bisnis prostitusi secara sembunyi-sembunyi di wilayahnya, Yunus punya jawaban tersendiri. “Kalau soal itu, apa bedanya dengan prostitusi online di luar sana? Siapa yang bisa memberantas habis hal seperti itu?” katanya sembari menekankan pihaknya terus memantau dan menindak jika memang ada mucikari yang berani melakukan bisnis prostitusi secara terbuka. Walikota Risma sendiri bukannya tak menyadari pentingnya memberi mata pencaharian bagi warga asli di bekas lokalisasi. Sejak lokalisasi ditutup, Risma menginstruksikan agar dibentuk Usaha Kecil Menengah (UKM) yang bisa dilakukan oleh warga agar memiliki sumber mata pencaharian yang baru. Maka terbentuklah 13 UKM. Yakni pembuatan sepatu, tempe “Bang Jarwo”, batik “Putat Jaya”, konveksi, sablon, bandeng, manik-manik, samiler Samijaya (kerupuk singkong), minyak rambut, atau minuman. Batik Putat Jaya sendiri terdiri dari tiga kelompok, yakni Canting Surya, Albujabar dan Jarak Arum. Keberadaan berbagai UKM tersebut, menurut Camat Yunus, telah bisa memberi penghidupan bagi sekitar 500 warga. “Tapi kami terus berupaya memfasilitasi para warga yang ingin dan mau memiliki usaha atau bekerja di UKM yang sudah ada,” katanya. Berbagai upaya tampaknya terus diupayakan Risma. Salah satunya dengan meresmikan kawasan Dolly sebagai kampung wisata. Pada Minggu (21/2/2016), Risma meresmikan “Dolly, Kampung Wisata Penuh Cerita”. Nama Dolly dipertahankan mengingat nama itu sudah terlanjur mengindonesia dan bahkan mendunia.Berbagai gang yang ada diberi tema sesuai keberadaan UKM di dalamnya. Sebut saja “Gang Samijali” untuk Gang Putat Jaya IV-A yang merupakan sentra pembuatan kerupuk singkong. Atau “Gang Remo”, nama tarian khas Surabaya, untuk Gang Putat Jaya III-A. Nama tersebut disematkan karena di dalamnya memang ada tempat latihan bagi generasi muda yang belajar tari Remo. Juga “Gang Batik” untuk Putat Jaya VIII-B. Risma sendiri mengaku bakal terus berupaya memberdayakan ekonomi di kawasan eks lokalisasi melalui berbagai macam pelatihan keterampilan. “Dari pelatihan tersebut, warga diharapkan memiliki keterampilan yang dapat digunakan untuk menambah penghasilan,” kata Risma, di Balai Kota, pada Jumat (23/9/2016). Ada harga yang harus dibayar untuk setiap kebijakan yang diambil. Risma memahami bahwa dia harus membayar kebijakannya menutup lokalisasi Dolly dengan mencarikan berbagai sumber penghidupan baru bagi warga yang tinggal di bekas lokalisasi tersebut. Tak mudah memang, tetapi bukan berarti tak bisa.

            SURABAYA, KOMPAS.com - Meski sudah ditutup tiga tahun lalu, lokalisasi Dolly Surabaya masih meninggalkan bekas. Di kawasan eks lokalisasi Dolly, saat ini masih ada 36 warga yang mengidap virus HIV. Menurut hasil pendataan pada 2016 oleh Dinas Kesehatan Kota Surabaya, jumlah itu menurun drastis dari tiga tahun terakhir sejak lokalisasi Dolly ditutup pada 2014. "Saat itu, ada 110 penduduk di kawasan tersebut yang positif HIV, termasuk para PSK," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Febria Rahmanita, Kamis (4/5/2017). Selain dari hasil pemeriksaan di Puskesmas setempat, data pengidap HIV di eks lokalisasi itu juga dari hasil razia di rumah kost dan tempat-tempat lainnya di sekitar lokalisasi Dolly Surabaya. "Selain bekas PSK, juga ada ibu rumah tangga, karyawan, buruh kasar," ujarnya. (Baca juga: Saat Akan Tutup Dolly, Risma Mengaku Disidang Para Ulama) Tingginya jumlah pengidap HIV di eks lokalisasi Dolly menurutnya terkait erat dengan aktifitas prostitusi di lokalisasi Dolly. Penurunan jumlah pengidap HIV, lanjut dia, juga terjadi di sejumlah kawasan bekas lokalisasi seperi eks lokalisasi Sememi yang dulunya 57 orang, kini menjadi 5 orang, lalu eks lokalisasi Dupak Bangunsari dari 68 orang menjadi 4 orang Secara umum, 2 tahun terakhir, jumlah pengidap HIV di Surabaya terus turun. Dari 935 pengidap pada 2014, turun menjadi 933 orang pada 2015 dan kembali turun pada 2016 menjadi 923 orang. "Kami terus melakukan monitoring di kawasan eks lokalisasi, serta meningkatkan pemahaman kepada warga agar tidak ada stigma negatif dan diskriminasi terhadap pengidap HIV,” tuturnya. Dalam hal penanganan, di Surabaya juga sudah ada sembilan rumah sakit untuk melakukan pengobatan pengidap HIV, yakni RSUD Soewandhie, RSUD Bakti Darma Husada (BDH), RSAL Rumah Sakit Bhayangkara dan RS Unair. Serta ada tujuh Puskesmas yakni Putat, Perak Timur, Sememi, Dupak, Jagir, Kedurus dan Kedung Doro
.
            Secara resmi lokalisasi Dolly sudah ditutup namun bukan berarti Pemerintah berhasil mematikan praktek pelacuran. Masalahnya uang kompensasi sebesar Rp. 5,050 juta untuk PSK dan Rp. 5 Juta untuk mucikari yang telah disiapkan Pemerintah Kota Surabaya tidak disetujui oleh semua calon penerima. Menurut Koordinator Front Pekerja Lokalisasi (FPL) Gang Dolly dan Jarak, Pokemon, uang sebesar Rp. 5 juta itu tidak berarti banyak untuk para PSK dan mucikari.  
            Hingga menjelang penutupan, PSK yang mengambildana kompensasi hanya sebanyak 397 orang dan mucikari sebanyak 69 orang. Sedangkan yang mengembalikan uang kompensasi ada lima PSK dan tiga mucikari. Ditengarai bahwa PSK yang menerima kompensasi adalah mereka yang tidak bisa berbisnis pelacuran lagi karena alasan usia. Ini menimbulkan kekhawatiran adanya pelacuran terselubung oleh para PSK yang masih laku.
            Pemerintah Kota Surabaya telah memberikan pesangon kepada para PSK dan mucikari sebesar Rp. 5 juta tetapi tidak disetujui oleh semua calon penerima, karena jika PSK telah menerima pesangon tersebut maka akan di data kemudian jika dia kembali bekerja sebagai PSK lalu tertangkap maka akan di rehabilitasi. Jadi penutupan lokalisasi belum tentu berarti menyelesaikan masalah pelacuran secara komprehensif, karena dapat berdampak pada pelacuran di tempat lain.
            Walikota Surabaya hanya memberikan bentuk pelatihan seperti skill membuat kue kering, salon, menjahit dan border. Hal ini juga diungkapkan oleh mantan pemilik toko kecil bahwa yang dilakukan pemerintah tersebut untuk melatih masyarakat eks lokalisasi Dolly ini memerlukan waktu yang singkat yakni hanya 3 hari. Tidak semua orang bisa, pada dasarnya masyarakat tidak mempunyai skill di bidang itu.



            Purnomo dan Siregar dalam Dolly (1983) mengemukakan, sejumlah pernyataan resmi mengumumkan jumlah perempuan yang telah meninggalkan kompleks, dianggap menuju “jalan yang lurus”, tetapi kebanyakan hanya pindah kompleks lain di kota lain di mana para germonya bisa membanggakan adanya “pendatang baru”. Jadi penutupan lokalisasi belum tentu berarti menyelesaikan masalah pelacuran secara komprehensif, karena dapat berdampak pada pelacuran di tempat lain.
            Perlu diingat bahwa eksistensi pelacuran terbangun karena logika bisnis, yaitu adanya supply and demand, di mana para pelacur membutuhkan uang dan pelanggannya membutuhkan kepuasan seksual. Para PSK eks-Dolly tetap dapat bekerja atau beroperasi selama masih ada pelanggan yang menginginkan meskipun harus bekerja di luar wilayah Dolly.
            Salah satu jalan lain yang digunakan untuk mengentas dan menyudahi PSK maupun mucikari adalah dengan memberikan mereka dakwah islam. Seperti dakwah yang dilakukan di lokalisasi saat ini, banyak cara dan metode yang dapat digunakan pada saat berdakwah di tempat sarang maksiat seperti itu. Memang tidak mudah, akan tetapi jika ada kemauan, kerja keras, telaten, dan konsisten maka keberhasilan dakwah akan tercapai. Jika saat ini banyak orang yang memandang jijik dan kotor terhadap dunia prostitusi, namun tidak sedikit pula orang yang menganggap bahwa PSK juga perlu mendapatkan dakwah islam yang layak.
            Juga tidak semua orang bisa berdakwah di tempat lokalisasi. Alasan yang paling besar adalah godaannya yang banyak dan berat. Alih-alih menyadarkan atau menginsyafkan oraang, justru pendakwah akan ikut terjerumus kedalam maksiat dan gagal lah upaya dakwahnya. Sehingga untuk melakukan dawah di lokalisasi ini diperlukan sekali langkah-langkah dan strategi-strategi yang tepat agar dakwah yang dilakukan sukses.
            Berbicara mengenai dakwah di eks lokalisasi, saya sebagai salah satu mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah & Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya telah mengikuti kuliah lapangan yang berlokasi tepat di wilayah eks-lokalisasi sebagai bagian dari tugas Mata Kuliah Ilmu Dakwah. Kuliah lapangan ini bertempat di sebuah masjid yang menjadi saksi bisu perjuangan para mubaligh yang ikhlas berdakwah demi menghentikan sarang maksiat yang besar itu. Masjid yang berlokasi di sebuah Gang yang masuk dalam wilayah yang dulu disebut sebagai Dolly.
            Perjuangan dakwah di eks lokalisasi Dolly menjadi objek pembelajaran di mata kuliah ilmu dakwah penulis kali ini. Kuliah lapangan yang saya ikuti ini bertempat di Jalan Kupang Gunung Timur Gang VII di sebuah masjid bernama At Taubah, sesuai namanya yaitu tempat bertaubat sebagai bukti perjuangan penutupan lokalisasi Dolly. Sebelum menjadi masjid, dulunya Rumah Allah ini masih Mushalla sederhana bernama Al Huda. Sekali lagi nama yang tepat untuk merepresentasikan Rumah Allah yang dapat memberi petunjuk pada umatnya yang masih berkutat pada kesalahan dan kedosaan.


            Kuliah lapangan yang mengambil tema “DAKWAH KONTEMPORER DAN ENTREPRENEURSHIP” ini menghadirkan empat narasumber yang sangat menginspirasi. Diantaranya, yang pertama ada Dr. H.A. Sunarto AS, MEI dengan julukan Doktor Prostitusi, anggota IDEAL (Ikatan Da’i Area Lokalisasi)-MUI Jatim, kemudian selanjutnya yaitu KH. Drs. Khoiron Syuaib yang berjuluk Kyai Prostitusi yang namanya sering tertulis di media berita online sehubungan dengan penutupan lokalisasi, yang ketiga ada H. Sunarto Sholahudin, seorang pengusaha sukses, owner PT . Berkah Aneka Laut, dan yang terakhir yaitu H. Gatot Subiantoro, seorang mantan preman dan juga anggota IDEAL-MUI Jatim.
           
Selain ke-empat narasumber dalam kuliah lapangan tersebut, ada lagi 1 orang yang juga cukup berpengaruh dan disegani oleh warga sekitar, yaitu seorang bapak berdarah campuran Yaman-Jawa bernama Ngadimin Wahab atau nama akrab dan sapaannya yaitu Abah Petruk. Beliau ini adalah seorang pengurus masjid At-Taubah sekaligus mubaligh awal yang memutuskan untuk terjun demi membenahi umat. Beliau juga yang ikut menjadi saksi bagaimana proses dakwah berjalan di area yang sangat sulit tersebut, ikut bersama menemani Mushalla Al-Huda hingga berubah menjadi Masjid At-Taubah.
            Abah Petruk ini dalam proses dakwahnya menggunakan metode penyembuhan dimana beliau masih memiliki keturunan dari seorang tabib. Penyembuhan yang dimaksud adalah penyembuhan dari hal-hal ghaib. Seperti ketika ada PSK yang terkena penyakit gua-guna, santet, dan kerasukan jin maka Abah Petruk akan turun tangan. Di sela-sela penyembuhan ini lah, dengan perlahan Abah Petruk juga menyematkan sedikit demi sedikit segala hal yang menyangkut keimanan.




            “Oleh karena itu, dakwah tidak bisa dilakukan hanya dengan ngomong saja. Harus ada action di lapangan.” Imbuh beliau. Dari ucapan beliau, saya sadar memang benar apa yang beliau sampaikan. Ketika dakwah di medan yang sulit seperti di Lokalisasi ini, dakwah dengan hanya berbicara saja maka tidak akan di dengar. Karena tempat semacam ini sudah terlalu bising dengan alunan musik disco dan dangdut. Maka agar pesan dakwah bisa tersampaikan, harus dibarengi dengan aksi nyata atau action seperti yang disampaikan oleh Abah Petruk di atas.
            Berawal dari narasumber Pertama, yaitu H. Sunarto Sholahudin, beliau adalah seorang pengusaha sukses. Beliau membagikan pengalaman mengenai perjalanan hidup di mulai dari masa kecilnya yang susah secara ekonomi. Ayahnya seorang penjual es dan ibunya penjual roti. Sedang beliau sendiri sudah terbiasa menjajakan jajanan sembari bersekolah. Hingga kemudian merantau ke Surabaya untuk mengadu nasib.
            Setelah melewati berbagai lika-liku kehidupan dan tantangan-tantangan yang amat sulit, beliau memulai berusaha dalam bidang olahan sari laut hingga sampai sukses seperti saat ini. Namun, kesuksesan itu tidak membuat beliau lupa akan kewajibannya kepada Allah SWT. Selain menuaikan ibadah syariah rutin, beliau juga ikut andil dalam proses dakwah di eks lokalisasi saat itu. Dalam dakwah lokalisasi H. Sunarto berperan dalam hal logistic. Seperti untuk keperluan Masjid-Masjid disekitar Lokalisasi dan menyantuni anak-anak yatim serta janda-janda miskin disekitar lokalisasi.
            Dalam kesempatan itu juga, beliau menitip mengenai kejujuran. Beliau mengatakan kejujuran adalah modal utama untuk menuju kesuksesan. Kemudian beliau mengatakan jangan sampai kita dikendalikan oleh elektronik, akan tetapi sebaliknya kitalah yang harus mengendalikan elektronik. Lalu, beliau juga mempunyai motto hidup “man jadda wa jada” yang selalu dipegangnya. Terakhir, beliau berkata: “Kreatif anda akan menjadi uang untuk anda.” Itulah pesan beliau yang selalu saya ingat. Sebagai sosok pekerja keras tangguh dan tidak lupa akan kewajiban agamanya meskipun sudah berada di puncak kesuksesan.
            Setelah H. Sunarto Sholahudin, narasumber ke dua adalah Dr. H. Sunarto AS, MEI yang juga merupakan dosen Fakultas Dakwah & Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Seperti yang sudah saya katakan di atas, beliau memunyai julukan sebagai “Doktor Prostitusi” karena rumah beliau dekat dengan area lokalisasi dan beliau mendedikasikan diri untuk ikut terjun berdakwah di dunia kemaksiatan tersebut.
Dalam berdakwah, beliau menggunakan metode Persuasif, yaitu metode pendekatan untuk mengenali mitra dakwah lebih dekat. Integratif, yaitu  dan Solutif. Dan satu statement luar biasa dari beliau adalah “Kemaksiatan menjadi hebat karena di manage dengan baik.” Sesuatu yang buruk di persiapkan dengan baik hasilnya hebat, apalagi sesuatu yang baik dan cara penyampaiannya dengan baik pula, justru semakin lebih hebat. Oleh karena itu, pesan-pesan islam yang indah juga harus di manage dengan baik.
Kemudian narasumber ketiga yaitu KH. Drs. Khoiron Syuaib dengan julukannya “kyai prostitusi”. Beliau mengklasifikasi mitra dakwah menjadi empat macam, yaitu PSK, mucikari, tokoh-tokoh berpengaruh seperti RW (sebagai tokoh formal) dan preman (sebagai tokoh nonformal), dan wiraswasta yang merasa diuntungkan dengan adanya lokalisasi. Metode beliau dalam berdakwah adalah mendekati masing-masing mitra dakwah dengan dakwah santai dan tidak langsung menyalah-nyalahkan perbuatan mereka serta menghindari dakwah yang terkesan membosankan.
“Prostitusi selama setan masih hidup maka akan terus ada sampai kiamat”. Oleh karena itu, dakwah juga terus dilakukan untuk mengimbanginya. Seperti semangat beliau dalam berdakwah pada PSK beliau mengatakan proses dakwah sampai dilakukan di tretes untuk memberikan pesan keisaman agar menyentuh hati dan terbukti setelah dari sana, mereka semua menjadi insyaf dan berhenti dari pekerjaan maksiat tersebut. Satu statement beliau adalah
Narasumber yang keempat yaitu H. Gatot Subiantoro, seorang mantan preman yang termasuk dalam salah satu preman berpengaruh di area lokalisasi. Mengenai pengalaman dalam hal dunia kemaksiatan tersebut beliau sudah khatam. Beliau berbagi cerita bagaimana seorang Gatot yang setiap harinya bergelimang uang hasil upeti dari para PSK dan lelaki hidung belang yang menyewa jasa mereka. Setiap harinya yang selalu ditemani oleh minuman keras dan  dikelilingi wanita-wanita cantik dan berkelahi dengan preman-preman lain.
Tetapi itu semua sudah menjadi cerita masa lalu bagi beliau. Alhamdulillah Allah SWT masih menyayangi beliau dan memberikan hidayahnya pada beliau sehingga di usia yang sudah tidak lagi muda beliau masih bisa merasakan manisnya iman islam melalui para mubaligh-mubaligh yang sudah saya sebut di atas. Beliau bercerita, bahwa metode dakwah para mubaligh di atas berbeda dengan metode da’i yang lain. Ketika mereka datang, mereka tidak langsung mengatakan hal ini dosa, hal itu dilarang, kamu harus taubat, kamu harus sholat, dan sebagainya. Tetapi mereka merangkul beliau terlebih dahulu dengan dilibatkan pada acara-acara hari besar islam seperti menjadi panitia kurban pada saat Idul Adha.
Dari perlakuan yang seperti inilah, yang membuat beliau tersentuh dan dapat menangkap sinar hidayah Allah SWT. Dakwah yang tulus, ikhlas, sabar, telaten, dan halus inilah yang mampu mengubah seorang Gatot Subiantoro menjadi sosok Umar Bin Khattab ketika di zaman Rasulullah SAW. Sesorang yang awalnya antipasti dan menentang dakwah, kini menjadi pembela dakwah islam paling depan dan kemudian ikut serta dalam aksi dakwah.
Buah kesabaran dan kekonsistenan beliau yang turut memperjuangkan matinya prostitusi beliau mendapatkan bonus dari Allah SWT berupa undangan  Baitullah untuk menunaikan ibadah haji di Makkah dan Madinah melalui undangan khusus dari MUI.  “Kekayaan nggak ada habisnya, kemiskinan nggak ada habisnya, akan tetapi usia ada habisnya. Dakwah jangan hanya di Masjid saja, tetapi harus kemana-kemana. Tetangga masih membutuhkan perhatian kita”. Pungkas beliau di sela menceritakan pengalamannya.
Semoga kisah inspiratif tersebut dapat menginspirasi kita semua untuk turut memperjuangkan nilai-nilai keislaman di era modern yang tidak terbatas seperti sekarang. Kuliah lapangan tersebut membawa kesan yang menarik bagi saya, diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Mengerti bahwa berdakwah harus bersabar dan bersahabat agar dapat diterima dengan baik.
2.      Menumbuhkan semangat berilmu, beramal, dan bekerja.
3.      Pentingnya membangkitkan pemuda agar tidak terjerumus dalam lubang yang salah.
4.      Dapat mengenal kisah inspiratif dari pemateri yang menimbulkan semangat dalam berdakwah.
5.      Mengenal sepak terjang dunia enterpreneurship.

Komentar

  1. Jika belum bisa menyuarakan kebenaran, tulis saja, diksi akan menjadi saksi bahwa perjuangan belum boleh berhenti.

    BalasHapus
  2. Semoga tidak ada dolly-dolly lain ya, Ndin. 😃

    BalasHapus
  3. Semangat berkarya, semoga karyamu semakin baik ke depannya. 😙

    BalasHapus
  4. Good, lanjutkan dengan karya" lain mu😊

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini