Sebagai Laporan Kuliah Lapangan Mata Kuliah
Ilmu Dakwah
Kota Surabaya yang merupakan Ibu kota Provinsi Jawa
Timur ini merupakan pusat pemerintahan daerah, politik, perdagangan, industry,
pendidikan, dan kebudayaan sehingga tidak mengherankan apabila Surabaya
memiliki daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang berasal dari luar Kota
Surabaya untuk bermigrasi. Mereka datang dengan berbagai motif dan yang paling
dominan adalah motif ekonomi dengan tujuan mencari kehidupan yang lebih baik.
Besarnya penduduk yang bermigras dan terbatasnya lapangan pekerjaan di Kota
Surabaya ini menjadi salah satu faktor pendorong munculnya kegiatan prostitusi.
Surabaya memiliki sebuah kawasan lokalisasi yang sangat terkenal hingga dikatan
sebagai yang terbesar di Asia Tenggara.
Kawasan Dolly atau yang biasa terkenal dengan sebutan
Gang Dolly adalah nama kawasan lokalisasi tersebut. Lokalisasi ini terletak di
Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan. Dikatakan sebagai tempat prostitusi
terbesar di Asia Tenggara dibandingkan dengan Phat Pong di Bangkok, Thailand
dan Geylang di Singapura. Di Dolly, terkumpul ribuan PSK yang berasal dari
sejumlah daerah seperti Semarang, Kudus, Pati, Purwodadi, Nganjuk, Sidoarjo,
Sumenep, Malang, Trenggalek, dan Kediri. Sedangkan mereka yang berasal dari
Surabaya bekerja di Dolly sebagai model paruh waktu atau freelance.
Memang
banyak beragam kisah mengenai berdirinya Dolly, yang pertama menyebutkan bahwa
Dolly merupakan nama dari salah seorang perintis berdirinya usaha prostitusi
tersebut di Kota Surabaya. Dolly Van De Mart adalah seorang perempuan keturunan
Belanda yang membuka sebuah wisma berisikan perempuan-perempuan cantik yang
tugas utamanya untuk melayani tentara Belanda kala itu.
Karena pelayanan memuaskan yang diberikan oleh para
perempuan cantik tersebut, membuat tentara Belanda akhirnya tertarik untuk
datang berkunjung kembali. Tidak hanya itu, masyarakat pribumi yang ikut
penasaran juga akhirnya menyinggahi tempat itu sehinga lama-kelamaan rumah
bordil itu menjadi kawasan yang ramai dan terkenal hingga sampai seperti
sekarang.
Selain
kisah Dolly Van De Mart seperti yang sudah dipaparkan di atas, ada kisah lain
mengenai awal berdirinya kawasan prostitusi terkenal itu. Dalam kisah yang satu
ini, menyebutkan bahwa pada awalnya Dolly hanyalah sebuah kompleks / kawasan
pemakaman Cina yang kemudian di bongkar untuk dijadikan hunian rumah tempat
tinggal. Lalu sekitar tahun 1976-an ada seorang mantan pelacur berdarah
Jawa-Philipina yang bernama Dolly Khavit atau yang lebih dikenal dengan tante
Dolly yang pindah ke daerah tersebut. Lantas kemudian Dolly Khavit mendirikan
rumah bordil untuk pertama kalinya.
Usaha
rumah bordilnya ini membuat orang penasaran dan mengundang mereka untuk
berkunjung sehingga akhirnya kawasan tersebut semakin hari semakin terkenal
seperti sekarang. Konon sejak saat itulah bisnis prostitusi inipun mulai
menjalar, banyak kemudian puluhan rumah bordil yang mendirikan bisnis yang sama
bermunculan. Selain karena lokasi yang strategis, cara para PSK (Pekerja Seks
Komersial) menjajakan diri dengan berada di aquarium memang menjadi magnet yang
besar bagi para lelaki hidung belang.
Semakin
lama Gang Dolly semakin dikenal masyarakat. Kondisi tersebut kemudian
berpengaruh pada kuantitas pengunjung dan jumlah PSK serta Dolly juga menjelma
menjadi kekuatan dan sandaran hidup bagi penduduk di sana. Ada lebih dari 800
wisma esek-esek, kafe dangdut, dan panti pijat plus-plus. Setidaknya
setiap malam sekitar 9.000 lebih penjaja cinta, pelacur di bawah umur, germo,
dan ahli pijat siap menawarkan diri kepada pengunjung. Bahkan seorang PSK dapat
melayani 10 hingga 13 pelanggan dalam semalam. Bukan hanya itu, Dolly kemudian
juga menjadi tumpuan hidup bagi ribuan pedagang kaki lima, tukang parkir, dan
calo prostitusi. Semua saling berkaitan menjalin simbiosis mutualisme.
Tahun 2014, lokalisasi Dolly resmi ditutup oleh Walikota Surabaya, Ir. Tri Rismaharini, M.T setelah sekian puluh tahun menjadi kawasan prostitusi yang dianggap merupakan sumber hal-hal negative dan untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa. Penutupan ini telah melalui proses negosiasi yang sangat panjang dan menuai demonstrasi dari para preman, mucikari, PSK, dan warga sekitar yang menggantungkan penghasilan dari kegiatan prostitusi tersebut. Mereka melakukan demonstrasi karena dalih bahwa selama ini dari lokalisasilah mereka mendapatkan penghasilan untuk biaya hidup. Jika lokalisasi ditutup, maka itu sama saja dengan menghilangkan mata pencaharian mereka.
Namun Gang
Dolly kini berbenah menampakkan wujud barunya setelah Wali Kota Surabaya Tri
Rismaharini berhasil menutupnya pada Rabu 18 Juni 2014.
Pada malam terakhir bisnis prostitusi di Gang Dolly, etalase kaca
yang biasa memajang para Pekerja Seks Komersial (PSK) berpakaian minim, terlihat
kosong dan gelap. Para muncikari tak lagi sibuk bertransaksi dengan para tamu
sambil memencet kalkulator.
Sementara, warga menutup rumah dan toko, khawatir kericuhan bakal
terjadi. Suasana mencekam kala itu.
Pada saat bersamaan di Gedung
Islamic Center Surabaya, yang jaraknya sekitar 1 km dari Dolly, sejumlah
pejabat penting berkumpul, di antaranya Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri,
Gubernur Jatim Soekarwo, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Mereka secara
resmi menutup operasional lokalisasi Gang Dolly.
Lokalisasi Dolly yang tersebar di lima RW di wilayah Kelurahan Putat Jaya,
Kecamatan Sawahan, memang terbagi menjadi dua lokalisasi. Pertama, lokalisasi
Gang Dolly --sebenarnya Jalan Kupang Gunung Timur I– serta deretan wisma yang
terletak di sisi selatan Jalan Jarak.
Kedua, lokalisasi Jarak yang letaknya tepat di seberang jalan lokalisasi
Dolly. Saat masih beroperasi, ada perbedaan mendasar antara lokalisasi Dolly
dan Jarak, yakni kualitas dari para PSK yang ada. "Mbak-Mbak" di
Dolly memang lebih muda dan cantik sehingga memiliki tarif yang lebih tinggi,
berkisar Rp200 ribu hingga Rp500 ribu untuk sekali kencan. Sedangkan Jarak yang
areanya justru lebih luas, kualitas "Mbak-Mbak" dan tarifnya di bawah
Dolly. Para "Mbak" yang sebelumnya beroperasi di Dolly dan mulai
berumur, harus rela bergeser operasi ke wilayah Jarak apabila tetap ingin
bertahan di kawasan merah tersebut. Berapa tarif "Mbak-Mbak" yang
ditawarkan Arief tadi? Dia menyebut Rp300 ribu untuk Mita dan Laras, sedangkan
Widya Rp250 ribu untuk kencan sekitar satu jam. “Itu sudah termasuk bayar kamar
di sekitar sini. Kalau sampeyan mau bawa ke hotel, kamar hotelnya sampeyan
bayar sendiri,” kata Arief yang mengaku mendapat fee dari para "Mbak"
tadi antara Rp35 ribu hingga Rp50 ribu.
Bisnis prostitusi tampaknya tak bisa hilang begitu saja di bekas lokalisasi
Dolly yang secara resmi telah ditutup oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini
pada 18 Juni 2014. Masih ada yang melakukannya dengan cara sembunyi-sembunyi,
memanfaatkan berbagai hotel yang letaknya jauh dari Dolly atau kamar-kamar
tertentu di beberapa rumah kost di wilayah tersebut.
Harga Rumah
Naik Kawasan Dolly yang pernah disebut sebagai lokalisasi terbesar di Asia
Tenggara dengan 1.449 PSK dan 313 mucikari itu memang telah berubah wajah. Jika
dulu berbagai wisma, karaoke, atau salon berderet di Jalan Jarak, kini hanya
tersisa bekas-bekasnya. Wisma atau salon berubah menjadi toko komersial seperti
mini market, counter handphone dan pulsa, pangkas rambut, air isi ulang,
bengkel motor dan aksesorinya atau warung kopi. Adapun Gang Dolly atau Jalan
Kupang Gunung Timur I juga telah berubah wajah meski masih tersisa beberapa
bangunan rumah dengan kaca etalase yang dulu dipergunakan para
"Mbak-Mbak" menunggu para tamunya. Di ujung jalan Kupang Gunung Timur
I, tepatnya rumah nomor 1A yang terdri dari tiga lantai, kini dijadikan usaha
pangkas rambut “Abassy”. Dulu, tempat itu dikenal orang sebagai “Salon Ari”.
Menurut Ahmad Fauzy (23) pemilik Abassy, dia membuka pangkas rambut sejak dua
bulan lalu. “Saya sewa tempat ini Rp23 juta untuk dua tahun,” katanya kepada
Tirto.id, pada Minggu (18/9/2016) . Fauzy baru memanfaatkan ruang etalase eks
Salon Ari untuk bisnis pangkas rambutnya. Selain ruang etalase, masih ada satu
kamar dan satu kamar mandi di lantai bawah. Sedangkan di lantai dua, terdapat
empat kamar berukuran 2 x 2 meter persegi. Masih ada satu kamar lagi di lantai
tiga. Kondisi keenam kamar tersebut gelap dan pengab penanda lama tak
dipergunakan. Interior di dalamnya pun sama, bentuk ranjang dari betonan semen
untuk meletakkan kasur, serta sepetak kecil lantai toilet dan keran untuk
berbilas di ujung ranjang. Fauzy sendiri mengaku masih pusing untuk
memanfaatkan keenam kamar tersebut. “Mungkin bakal saya sewakan untuk kamar
kost. Tapi entah, apa ada yang mau menyewa,” katanya. Buntut penutupan
lokalisasi Dolly dan Jarak memang berimbas pada harga sewa dan harga jual rumah
di kawasan tersebut. Untuk harga rumah misalnya, bisa naik hingga tiga kali
lipat. Jika dulu masih kawasan lokalisasi, rumah warga di berbagai gang Putat
Jaya di Jarak dengan luas tanah sekitar 100 meter persegi sekitar Rp100 juta,
kini melenting menjadi Rp300 juta hingga Rp350 juta. “Kalau dulu siapa yang mau
beli, wong di sebelah-sebelahnya jadi wisma lokalisasi?” kata Basir, warga Jalan
Putat Jaya. Senin malam (19/9/2016). Hal yang paling menakjubkan dari
lokalisasi Jarak, tak lain berimpitannya wisma prostitusi dan rumah warga
nonprostitusi. Pembedanya hanyalah tulisan mencolok di pagar atau depan rumah,
yakni “Rumah Tangga” untuk rumah warga yang normal.
Nama Dolly Dipertahankan Suasana malam di Dolly juga sudah berubah total. Jika dulu sekitar pukul 22.00, kehidupan malam mulai berdenyut cepat, kini justru mulai terlihat sepi layaknya perkampungan lain di Kota Buaya. Semakin larut, kawasan tersebut juga turut terlelap. Kecuali di beberapa sudut tempat warung kopi yang buka 24 jam, tempat para lelaki berkumpul untuk sekedar ngobrol melewatkan malam. Kehidupan malam yang sepi itu memang menyisakan duka bagi banyak warga yang dulu “menggantungkan” hidup dari kehidupan malam di Dolly. Dari total 15 RW di Kelurahan Putat Jaya, sebanyak lima RW menjadi tempat lokalisasi dengan total jumlah penduduk sekitar 10 ribu orang. Saat masih menjadi lokalisasi, banyak warga yang membuka toko di rumah mereka untuk memenuhi kebutuhan para Mbak-Mbak dan tamu-tamunya. Mulai dari rokok, sabun, shampo, atau mie instan hingga beras. Begitu lokalisasi ditutup dan tak ada lagi denyut kehidupan malam, satu per satu toko milik warga pun ikut tutup. Kondisi inilah yang merupakan pekerjaan rumah besar bagi Walikota Risma dan jajarannya. “Memang hal terberat adalah mengubah mindset warga asli untuk mau mengubah cara mendapatkan penghasilan. Sebab dulu mereka memang berada di zona nyaman, dimanjakan dengan keberadaan dunia malam yang mendatangkan banyak uang,” kata Yunus, Camat Sawahan kepada tirto.id, pada Selasa (20/9/2016).Sementara ketika ditanya soal keberadaan bisnis prostitusi secara sembunyi-sembunyi di wilayahnya, Yunus punya jawaban tersendiri. “Kalau soal itu, apa bedanya dengan prostitusi online di luar sana? Siapa yang bisa memberantas habis hal seperti itu?” katanya sembari menekankan pihaknya terus memantau dan menindak jika memang ada mucikari yang berani melakukan bisnis prostitusi secara terbuka. Walikota Risma sendiri bukannya tak menyadari pentingnya memberi mata pencaharian bagi warga asli di bekas lokalisasi. Sejak lokalisasi ditutup, Risma menginstruksikan agar dibentuk Usaha Kecil Menengah (UKM) yang bisa dilakukan oleh warga agar memiliki sumber mata pencaharian yang baru. Maka terbentuklah 13 UKM. Yakni pembuatan sepatu, tempe “Bang Jarwo”, batik “Putat Jaya”, konveksi, sablon, bandeng, manik-manik, samiler Samijaya (kerupuk singkong), minyak rambut, atau minuman. Batik Putat Jaya sendiri terdiri dari tiga kelompok, yakni Canting Surya, Albujabar dan Jarak Arum. Keberadaan berbagai UKM tersebut, menurut Camat Yunus, telah bisa memberi penghidupan bagi sekitar 500 warga. “Tapi kami terus berupaya memfasilitasi para warga yang ingin dan mau memiliki usaha atau bekerja di UKM yang sudah ada,” katanya. Berbagai upaya tampaknya terus diupayakan Risma. Salah satunya dengan meresmikan kawasan Dolly sebagai kampung wisata. Pada Minggu (21/2/2016), Risma meresmikan “Dolly, Kampung Wisata Penuh Cerita”. Nama Dolly dipertahankan mengingat nama itu sudah terlanjur mengindonesia dan bahkan mendunia.Berbagai gang yang ada diberi tema sesuai keberadaan UKM di dalamnya. Sebut saja “Gang Samijali” untuk Gang Putat Jaya IV-A yang merupakan sentra pembuatan kerupuk singkong. Atau “Gang Remo”, nama tarian khas Surabaya, untuk Gang Putat Jaya III-A. Nama tersebut disematkan karena di dalamnya memang ada tempat latihan bagi generasi muda yang belajar tari Remo. Juga “Gang Batik” untuk Putat Jaya VIII-B. Risma sendiri mengaku bakal terus berupaya memberdayakan ekonomi di kawasan eks lokalisasi melalui berbagai macam pelatihan keterampilan. “Dari pelatihan tersebut, warga diharapkan memiliki keterampilan yang dapat digunakan untuk menambah penghasilan,” kata Risma, di Balai Kota, pada Jumat (23/9/2016). Ada harga yang harus dibayar untuk setiap kebijakan yang diambil. Risma memahami bahwa dia harus membayar kebijakannya menutup lokalisasi Dolly dengan mencarikan berbagai sumber penghidupan baru bagi warga yang tinggal di bekas lokalisasi tersebut. Tak mudah memang, tetapi bukan berarti tak bisa.
SURABAYA, KOMPAS.com - Meski sudah ditutup tiga tahun lalu, lokalisasi Dolly Surabaya masih meninggalkan bekas. Di kawasan eks lokalisasi Dolly, saat ini masih ada 36 warga yang mengidap virus HIV. Menurut hasil pendataan pada 2016 oleh Dinas Kesehatan Kota Surabaya, jumlah itu menurun drastis dari tiga tahun terakhir sejak lokalisasi Dolly ditutup pada 2014. "Saat itu, ada 110 penduduk di kawasan tersebut yang positif HIV, termasuk para PSK," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Febria Rahmanita, Kamis (4/5/2017). Selain dari hasil pemeriksaan di Puskesmas setempat, data pengidap HIV di eks lokalisasi itu juga dari hasil razia di rumah kost dan tempat-tempat lainnya di sekitar lokalisasi Dolly Surabaya. "Selain bekas PSK, juga ada ibu rumah tangga, karyawan, buruh kasar," ujarnya. (Baca juga: Saat Akan Tutup Dolly, Risma Mengaku Disidang Para Ulama) Tingginya jumlah pengidap HIV di eks lokalisasi Dolly menurutnya terkait erat dengan aktifitas prostitusi di lokalisasi Dolly. Penurunan jumlah pengidap HIV, lanjut dia, juga terjadi di sejumlah kawasan bekas lokalisasi seperi eks lokalisasi Sememi yang dulunya 57 orang, kini menjadi 5 orang, lalu eks lokalisasi Dupak Bangunsari dari 68 orang menjadi 4 orang Secara umum, 2 tahun terakhir, jumlah pengidap HIV di Surabaya terus turun. Dari 935 pengidap pada 2014, turun menjadi 933 orang pada 2015 dan kembali turun pada 2016 menjadi 923 orang. "Kami terus melakukan monitoring di kawasan eks lokalisasi, serta meningkatkan pemahaman kepada warga agar tidak ada stigma negatif dan diskriminasi terhadap pengidap HIV,” tuturnya. Dalam hal penanganan, di Surabaya juga sudah ada sembilan rumah sakit untuk melakukan pengobatan pengidap HIV, yakni RSUD Soewandhie, RSUD Bakti Darma Husada (BDH), RSAL Rumah Sakit Bhayangkara dan RS Unair. Serta ada tujuh Puskesmas yakni Putat, Perak Timur, Sememi, Dupak, Jagir, Kedurus dan Kedung Doro.
Nama Dolly Dipertahankan Suasana malam di Dolly juga sudah berubah total. Jika dulu sekitar pukul 22.00, kehidupan malam mulai berdenyut cepat, kini justru mulai terlihat sepi layaknya perkampungan lain di Kota Buaya. Semakin larut, kawasan tersebut juga turut terlelap. Kecuali di beberapa sudut tempat warung kopi yang buka 24 jam, tempat para lelaki berkumpul untuk sekedar ngobrol melewatkan malam. Kehidupan malam yang sepi itu memang menyisakan duka bagi banyak warga yang dulu “menggantungkan” hidup dari kehidupan malam di Dolly. Dari total 15 RW di Kelurahan Putat Jaya, sebanyak lima RW menjadi tempat lokalisasi dengan total jumlah penduduk sekitar 10 ribu orang. Saat masih menjadi lokalisasi, banyak warga yang membuka toko di rumah mereka untuk memenuhi kebutuhan para Mbak-Mbak dan tamu-tamunya. Mulai dari rokok, sabun, shampo, atau mie instan hingga beras. Begitu lokalisasi ditutup dan tak ada lagi denyut kehidupan malam, satu per satu toko milik warga pun ikut tutup. Kondisi inilah yang merupakan pekerjaan rumah besar bagi Walikota Risma dan jajarannya. “Memang hal terberat adalah mengubah mindset warga asli untuk mau mengubah cara mendapatkan penghasilan. Sebab dulu mereka memang berada di zona nyaman, dimanjakan dengan keberadaan dunia malam yang mendatangkan banyak uang,” kata Yunus, Camat Sawahan kepada tirto.id, pada Selasa (20/9/2016).Sementara ketika ditanya soal keberadaan bisnis prostitusi secara sembunyi-sembunyi di wilayahnya, Yunus punya jawaban tersendiri. “Kalau soal itu, apa bedanya dengan prostitusi online di luar sana? Siapa yang bisa memberantas habis hal seperti itu?” katanya sembari menekankan pihaknya terus memantau dan menindak jika memang ada mucikari yang berani melakukan bisnis prostitusi secara terbuka. Walikota Risma sendiri bukannya tak menyadari pentingnya memberi mata pencaharian bagi warga asli di bekas lokalisasi. Sejak lokalisasi ditutup, Risma menginstruksikan agar dibentuk Usaha Kecil Menengah (UKM) yang bisa dilakukan oleh warga agar memiliki sumber mata pencaharian yang baru. Maka terbentuklah 13 UKM. Yakni pembuatan sepatu, tempe “Bang Jarwo”, batik “Putat Jaya”, konveksi, sablon, bandeng, manik-manik, samiler Samijaya (kerupuk singkong), minyak rambut, atau minuman. Batik Putat Jaya sendiri terdiri dari tiga kelompok, yakni Canting Surya, Albujabar dan Jarak Arum. Keberadaan berbagai UKM tersebut, menurut Camat Yunus, telah bisa memberi penghidupan bagi sekitar 500 warga. “Tapi kami terus berupaya memfasilitasi para warga yang ingin dan mau memiliki usaha atau bekerja di UKM yang sudah ada,” katanya. Berbagai upaya tampaknya terus diupayakan Risma. Salah satunya dengan meresmikan kawasan Dolly sebagai kampung wisata. Pada Minggu (21/2/2016), Risma meresmikan “Dolly, Kampung Wisata Penuh Cerita”. Nama Dolly dipertahankan mengingat nama itu sudah terlanjur mengindonesia dan bahkan mendunia.Berbagai gang yang ada diberi tema sesuai keberadaan UKM di dalamnya. Sebut saja “Gang Samijali” untuk Gang Putat Jaya IV-A yang merupakan sentra pembuatan kerupuk singkong. Atau “Gang Remo”, nama tarian khas Surabaya, untuk Gang Putat Jaya III-A. Nama tersebut disematkan karena di dalamnya memang ada tempat latihan bagi generasi muda yang belajar tari Remo. Juga “Gang Batik” untuk Putat Jaya VIII-B. Risma sendiri mengaku bakal terus berupaya memberdayakan ekonomi di kawasan eks lokalisasi melalui berbagai macam pelatihan keterampilan. “Dari pelatihan tersebut, warga diharapkan memiliki keterampilan yang dapat digunakan untuk menambah penghasilan,” kata Risma, di Balai Kota, pada Jumat (23/9/2016). Ada harga yang harus dibayar untuk setiap kebijakan yang diambil. Risma memahami bahwa dia harus membayar kebijakannya menutup lokalisasi Dolly dengan mencarikan berbagai sumber penghidupan baru bagi warga yang tinggal di bekas lokalisasi tersebut. Tak mudah memang, tetapi bukan berarti tak bisa.
SURABAYA, KOMPAS.com - Meski sudah ditutup tiga tahun lalu, lokalisasi Dolly Surabaya masih meninggalkan bekas. Di kawasan eks lokalisasi Dolly, saat ini masih ada 36 warga yang mengidap virus HIV. Menurut hasil pendataan pada 2016 oleh Dinas Kesehatan Kota Surabaya, jumlah itu menurun drastis dari tiga tahun terakhir sejak lokalisasi Dolly ditutup pada 2014. "Saat itu, ada 110 penduduk di kawasan tersebut yang positif HIV, termasuk para PSK," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Febria Rahmanita, Kamis (4/5/2017). Selain dari hasil pemeriksaan di Puskesmas setempat, data pengidap HIV di eks lokalisasi itu juga dari hasil razia di rumah kost dan tempat-tempat lainnya di sekitar lokalisasi Dolly Surabaya. "Selain bekas PSK, juga ada ibu rumah tangga, karyawan, buruh kasar," ujarnya. (Baca juga: Saat Akan Tutup Dolly, Risma Mengaku Disidang Para Ulama) Tingginya jumlah pengidap HIV di eks lokalisasi Dolly menurutnya terkait erat dengan aktifitas prostitusi di lokalisasi Dolly. Penurunan jumlah pengidap HIV, lanjut dia, juga terjadi di sejumlah kawasan bekas lokalisasi seperi eks lokalisasi Sememi yang dulunya 57 orang, kini menjadi 5 orang, lalu eks lokalisasi Dupak Bangunsari dari 68 orang menjadi 4 orang Secara umum, 2 tahun terakhir, jumlah pengidap HIV di Surabaya terus turun. Dari 935 pengidap pada 2014, turun menjadi 933 orang pada 2015 dan kembali turun pada 2016 menjadi 923 orang. "Kami terus melakukan monitoring di kawasan eks lokalisasi, serta meningkatkan pemahaman kepada warga agar tidak ada stigma negatif dan diskriminasi terhadap pengidap HIV,” tuturnya. Dalam hal penanganan, di Surabaya juga sudah ada sembilan rumah sakit untuk melakukan pengobatan pengidap HIV, yakni RSUD Soewandhie, RSUD Bakti Darma Husada (BDH), RSAL Rumah Sakit Bhayangkara dan RS Unair. Serta ada tujuh Puskesmas yakni Putat, Perak Timur, Sememi, Dupak, Jagir, Kedurus dan Kedung Doro.
Secara
resmi lokalisasi Dolly sudah ditutup namun bukan berarti Pemerintah berhasil
mematikan praktek pelacuran. Masalahnya uang kompensasi sebesar Rp. 5,050 juta
untuk PSK dan Rp. 5 Juta untuk mucikari yang telah disiapkan Pemerintah Kota
Surabaya tidak disetujui oleh semua calon penerima. Menurut Koordinator Front
Pekerja Lokalisasi (FPL) Gang Dolly dan Jarak, Pokemon, uang sebesar Rp. 5 juta
itu tidak berarti banyak untuk para PSK dan mucikari.
Hingga menjelang penutupan, PSK yang
mengambildana kompensasi hanya sebanyak 397 orang dan mucikari sebanyak 69 orang.
Sedangkan yang mengembalikan uang kompensasi ada lima PSK dan tiga mucikari.
Ditengarai bahwa PSK yang menerima kompensasi adalah mereka yang tidak bisa
berbisnis pelacuran lagi karena alasan usia. Ini menimbulkan kekhawatiran
adanya pelacuran terselubung oleh para PSK yang masih laku.
Pemerintah
Kota Surabaya telah memberikan pesangon kepada para PSK dan mucikari sebesar
Rp. 5 juta tetapi tidak disetujui oleh semua calon penerima, karena jika PSK
telah menerima pesangon tersebut maka akan di data kemudian jika dia kembali
bekerja sebagai PSK lalu tertangkap maka akan di rehabilitasi. Jadi penutupan
lokalisasi belum tentu berarti menyelesaikan masalah pelacuran secara
komprehensif, karena dapat berdampak pada pelacuran di tempat lain.
Walikota
Surabaya hanya memberikan bentuk pelatihan seperti skill membuat kue kering,
salon, menjahit dan border. Hal ini juga diungkapkan oleh mantan pemilik toko
kecil bahwa yang dilakukan pemerintah tersebut untuk melatih masyarakat eks
lokalisasi Dolly ini memerlukan waktu yang singkat yakni hanya 3 hari. Tidak
semua orang bisa, pada dasarnya masyarakat tidak mempunyai skill di bidang itu.
Purnomo
dan Siregar dalam Dolly (1983) mengemukakan, sejumlah pernyataan resmi
mengumumkan jumlah perempuan yang telah meninggalkan kompleks, dianggap menuju
“jalan yang lurus”, tetapi kebanyakan hanya pindah kompleks lain di kota lain
di mana para germonya bisa membanggakan adanya “pendatang baru”. Jadi penutupan
lokalisasi belum tentu berarti menyelesaikan masalah pelacuran secara
komprehensif, karena dapat berdampak pada pelacuran di tempat lain.
Perlu
diingat bahwa eksistensi pelacuran terbangun karena logika bisnis, yaitu adanya
supply and demand, di mana para pelacur membutuhkan uang dan
pelanggannya membutuhkan kepuasan seksual. Para PSK eks-Dolly tetap dapat
bekerja atau beroperasi selama masih ada pelanggan yang menginginkan meskipun
harus bekerja di luar wilayah Dolly.
Salah
satu jalan lain yang digunakan untuk mengentas dan menyudahi PSK maupun
mucikari adalah dengan memberikan mereka dakwah islam. Seperti dakwah yang
dilakukan di lokalisasi saat ini, banyak cara dan metode yang dapat digunakan
pada saat berdakwah di tempat sarang maksiat seperti itu. Memang tidak mudah,
akan tetapi jika ada kemauan, kerja keras, telaten, dan konsisten maka
keberhasilan dakwah akan tercapai. Jika saat ini banyak orang yang memandang
jijik dan kotor terhadap dunia prostitusi, namun tidak sedikit pula orang yang
menganggap bahwa PSK juga perlu mendapatkan dakwah islam yang layak.
Juga
tidak semua orang bisa berdakwah di tempat lokalisasi. Alasan yang paling besar
adalah godaannya yang banyak dan berat. Alih-alih menyadarkan atau
menginsyafkan oraang, justru pendakwah akan ikut terjerumus kedalam maksiat dan
gagal lah upaya dakwahnya. Sehingga untuk melakukan dawah di lokalisasi ini
diperlukan sekali langkah-langkah dan strategi-strategi yang tepat agar dakwah
yang dilakukan sukses.
Berbicara
mengenai dakwah di eks lokalisasi, saya sebagai salah satu mahasiswa Program
Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah & Komunikasi
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya telah mengikuti kuliah lapangan
yang berlokasi tepat di wilayah eks-lokalisasi sebagai bagian dari tugas Mata
Kuliah Ilmu Dakwah. Kuliah lapangan ini bertempat di sebuah masjid yang menjadi
saksi bisu perjuangan para mubaligh yang ikhlas berdakwah demi menghentikan
sarang maksiat yang besar itu. Masjid yang berlokasi di sebuah Gang yang masuk
dalam wilayah yang dulu disebut sebagai Dolly.
Perjuangan
dakwah di eks lokalisasi Dolly menjadi objek pembelajaran di mata kuliah ilmu
dakwah penulis kali ini. Kuliah lapangan yang saya ikuti ini bertempat di Jalan
Kupang Gunung Timur Gang VII di sebuah masjid bernama At Taubah, sesuai namanya
yaitu tempat bertaubat sebagai bukti perjuangan penutupan lokalisasi Dolly.
Sebelum menjadi masjid, dulunya Rumah Allah ini masih Mushalla sederhana
bernama Al Huda. Sekali lagi nama yang tepat untuk merepresentasikan Rumah
Allah yang dapat memberi petunjuk pada umatnya yang masih berkutat pada
kesalahan dan kedosaan.
Kuliah
lapangan yang mengambil tema “DAKWAH KONTEMPORER DAN ENTREPRENEURSHIP” ini
menghadirkan empat narasumber yang sangat menginspirasi. Diantaranya, yang
pertama ada Dr. H.A. Sunarto AS, MEI dengan julukan Doktor Prostitusi, anggota
IDEAL (Ikatan Da’i Area Lokalisasi)-MUI Jatim, kemudian selanjutnya yaitu KH.
Drs. Khoiron Syuaib yang berjuluk Kyai Prostitusi yang namanya sering tertulis
di media berita online sehubungan dengan penutupan lokalisasi, yang ketiga ada
H. Sunarto Sholahudin, seorang pengusaha sukses, owner PT . Berkah Aneka Laut,
dan yang terakhir yaitu H. Gatot Subiantoro, seorang mantan preman dan juga
anggota IDEAL-MUI Jatim.
Selain ke-empat narasumber dalam kuliah lapangan
tersebut, ada lagi 1 orang yang juga cukup berpengaruh dan disegani oleh warga
sekitar, yaitu seorang bapak berdarah campuran Yaman-Jawa bernama Ngadimin
Wahab atau nama akrab dan sapaannya yaitu Abah Petruk. Beliau ini adalah
seorang pengurus masjid At-Taubah sekaligus mubaligh awal yang memutuskan untuk
terjun demi membenahi umat. Beliau juga yang ikut menjadi saksi bagaimana
proses dakwah berjalan di area yang sangat sulit tersebut, ikut bersama
menemani Mushalla Al-Huda hingga berubah menjadi Masjid At-Taubah.
Abah
Petruk ini dalam proses dakwahnya menggunakan metode penyembuhan dimana beliau
masih memiliki keturunan dari seorang tabib. Penyembuhan yang dimaksud adalah
penyembuhan dari hal-hal ghaib. Seperti ketika ada PSK yang terkena penyakit
gua-guna, santet, dan kerasukan jin maka Abah Petruk akan turun tangan. Di
sela-sela penyembuhan ini lah, dengan perlahan Abah Petruk juga menyematkan
sedikit demi sedikit segala hal yang menyangkut keimanan.
“Oleh karena itu, dakwah tidak bisa dilakukan hanya dengan ngomong saja. Harus ada action di lapangan.” Imbuh beliau. Dari ucapan beliau, saya sadar memang benar apa yang beliau sampaikan. Ketika dakwah di medan yang sulit seperti di Lokalisasi ini, dakwah dengan hanya berbicara saja maka tidak akan di dengar. Karena tempat semacam ini sudah terlalu bising dengan alunan musik disco dan dangdut. Maka agar pesan dakwah bisa tersampaikan, harus dibarengi dengan aksi nyata atau action seperti yang disampaikan oleh Abah Petruk di atas.
Berawal
dari narasumber Pertama, yaitu H. Sunarto Sholahudin, beliau adalah seorang
pengusaha sukses. Beliau membagikan pengalaman mengenai perjalanan hidup di
mulai dari masa kecilnya yang susah secara ekonomi. Ayahnya seorang penjual es
dan ibunya penjual roti. Sedang beliau sendiri sudah terbiasa menjajakan
jajanan sembari bersekolah. Hingga kemudian merantau ke Surabaya untuk mengadu
nasib.
Setelah
melewati berbagai lika-liku kehidupan dan tantangan-tantangan yang amat sulit,
beliau memulai berusaha dalam bidang olahan sari laut hingga sampai sukses seperti
saat ini. Namun, kesuksesan itu tidak membuat beliau lupa akan kewajibannya
kepada Allah SWT. Selain menuaikan ibadah syariah rutin, beliau juga ikut andil
dalam proses dakwah di eks lokalisasi saat itu. Dalam dakwah lokalisasi H.
Sunarto berperan dalam hal logistic. Seperti untuk keperluan Masjid-Masjid
disekitar Lokalisasi dan menyantuni anak-anak yatim serta janda-janda miskin
disekitar lokalisasi.
Dalam
kesempatan itu juga, beliau menitip mengenai kejujuran. Beliau mengatakan
kejujuran adalah modal utama untuk menuju kesuksesan. Kemudian beliau
mengatakan jangan sampai kita dikendalikan oleh elektronik, akan tetapi
sebaliknya kitalah yang harus mengendalikan elektronik. Lalu, beliau juga
mempunyai motto hidup “man jadda wa jada” yang selalu dipegangnya.
Terakhir, beliau berkata: “Kreatif anda akan menjadi uang untuk anda.” Itulah
pesan beliau yang selalu saya ingat. Sebagai sosok pekerja keras tangguh dan
tidak lupa akan kewajiban agamanya meskipun sudah berada di puncak kesuksesan.
Setelah
H. Sunarto Sholahudin, narasumber ke dua adalah Dr. H. Sunarto AS, MEI yang
juga merupakan dosen Fakultas Dakwah & Komunikasi Universitas Islam Negeri
Sunan Ampel Surabaya. Seperti yang sudah saya katakan di atas, beliau memunyai
julukan sebagai “Doktor Prostitusi” karena rumah beliau dekat dengan area
lokalisasi dan beliau mendedikasikan diri untuk ikut terjun berdakwah di dunia
kemaksiatan tersebut.
Dalam berdakwah, beliau menggunakan metode Persuasif,
yaitu metode pendekatan untuk mengenali mitra dakwah lebih dekat. Integratif,
yaitu dan Solutif. Dan satu statement
luar biasa dari beliau adalah “Kemaksiatan menjadi hebat karena di manage
dengan baik.” Sesuatu yang buruk di persiapkan dengan baik hasilnya hebat,
apalagi sesuatu yang baik dan cara penyampaiannya dengan baik pula, justru
semakin lebih hebat. Oleh karena itu, pesan-pesan islam yang indah juga harus
di manage dengan baik.
Kemudian narasumber ketiga yaitu KH. Drs. Khoiron
Syuaib dengan julukannya “kyai prostitusi”. Beliau mengklasifikasi mitra dakwah
menjadi empat macam, yaitu PSK, mucikari, tokoh-tokoh berpengaruh seperti RW
(sebagai tokoh formal) dan preman (sebagai tokoh nonformal), dan wiraswasta
yang merasa diuntungkan dengan adanya lokalisasi. Metode beliau dalam berdakwah
adalah mendekati masing-masing mitra dakwah dengan dakwah santai dan tidak
langsung menyalah-nyalahkan perbuatan mereka serta menghindari dakwah yang
terkesan membosankan.
“Prostitusi selama setan masih hidup maka akan terus
ada sampai kiamat”. Oleh karena itu, dakwah juga terus dilakukan untuk
mengimbanginya. Seperti semangat beliau dalam berdakwah pada PSK beliau
mengatakan proses dakwah sampai dilakukan di tretes untuk memberikan pesan
keisaman agar menyentuh hati dan terbukti setelah dari sana, mereka semua
menjadi insyaf dan berhenti dari pekerjaan maksiat tersebut. Satu statement
beliau adalah
Narasumber yang keempat yaitu H. Gatot Subiantoro,
seorang mantan preman yang termasuk dalam salah satu preman berpengaruh di area
lokalisasi. Mengenai pengalaman dalam hal dunia kemaksiatan tersebut beliau
sudah khatam. Beliau berbagi cerita bagaimana seorang Gatot yang setiap harinya
bergelimang uang hasil upeti dari para PSK dan lelaki hidung belang yang
menyewa jasa mereka. Setiap harinya yang selalu ditemani oleh minuman keras dan dikelilingi wanita-wanita cantik dan
berkelahi dengan preman-preman lain.
Tetapi itu semua sudah menjadi cerita masa lalu bagi
beliau. Alhamdulillah Allah SWT masih menyayangi beliau dan memberikan
hidayahnya pada beliau sehingga di usia yang sudah tidak lagi muda beliau masih
bisa merasakan manisnya iman islam melalui para mubaligh-mubaligh yang sudah
saya sebut di atas. Beliau bercerita, bahwa metode dakwah para mubaligh di atas
berbeda dengan metode da’i yang lain. Ketika mereka datang, mereka tidak langsung
mengatakan hal ini dosa, hal itu dilarang, kamu harus taubat, kamu harus
sholat, dan sebagainya. Tetapi mereka merangkul beliau terlebih dahulu dengan
dilibatkan pada acara-acara hari besar islam seperti menjadi panitia kurban
pada saat Idul Adha.
Dari perlakuan yang seperti inilah, yang membuat
beliau tersentuh dan dapat menangkap sinar hidayah Allah SWT. Dakwah yang
tulus, ikhlas, sabar, telaten, dan halus inilah yang mampu mengubah seorang
Gatot Subiantoro menjadi sosok Umar Bin Khattab ketika di zaman Rasulullah SAW.
Sesorang yang awalnya antipasti dan menentang dakwah, kini menjadi pembela
dakwah islam paling depan dan kemudian ikut serta dalam aksi dakwah.
Buah kesabaran dan kekonsistenan beliau yang turut
memperjuangkan matinya prostitusi beliau mendapatkan bonus dari Allah SWT
berupa undangan Baitullah untuk
menunaikan ibadah haji di Makkah dan Madinah melalui undangan khusus dari
MUI. “Kekayaan nggak ada habisnya,
kemiskinan nggak ada habisnya, akan tetapi usia ada habisnya. Dakwah jangan hanya
di Masjid saja, tetapi harus kemana-kemana. Tetangga masih membutuhkan
perhatian kita”. Pungkas beliau di sela menceritakan pengalamannya.
Semoga kisah inspiratif tersebut dapat menginspirasi
kita semua untuk turut memperjuangkan nilai-nilai keislaman di era modern yang
tidak terbatas seperti sekarang. Kuliah lapangan tersebut membawa kesan yang
menarik bagi saya, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Mengerti bahwa berdakwah harus bersabar dan
bersahabat agar dapat diterima dengan baik.
2. Menumbuhkan semangat berilmu, beramal, dan
bekerja.
3. Pentingnya membangkitkan pemuda agar tidak
terjerumus dalam lubang yang salah.
4. Dapat mengenal kisah inspiratif dari
pemateri yang menimbulkan semangat dalam berdakwah.
5. Mengenal sepak terjang dunia enterpreneurship.






Jika belum bisa menyuarakan kebenaran, tulis saja, diksi akan menjadi saksi bahwa perjuangan belum boleh berhenti.
BalasHapusSemoga tidak ada dolly-dolly lain ya, Ndin. 😃
BalasHapusSemangat berkarya, semoga karyamu semakin baik ke depannya. 😙
BalasHapusGood, lanjutkan dengan karya" lain mu😊
BalasHapusSemangatt ❤️
BalasHapus